Kamis, 23 Mei 2013

Kisah Legenda Dewi Bulan dan Pemanah Matahari






Jaman dahulu kala, di China hiduplah sepasang suami istri. Sang istri bernama Chang ‘E dan suaminya bernama Hou Yi. Kehidupan mereka berubah ketika suatu hari, sepuluh matahari - yang berupa sepuluh ekor burung api yang seharusnya muncul bergantian di langit – tiba-tiba muncul bersamaan, menyebabkan bencana ke bumi. Kekeringan dan kemarau panjang melanda. Hou Yi, seorang pemanah ulung, dengan panah pusakanya berhasil memanah sembilan dari sepuluh matahari itu, menyisakan satu untuk menunjang kehidupan di bumi. Hou Yi menjadi pahlawan dan seharusnya kisah ini berakhir bahagia. Seharusnya.



 Berkat jasanya, sang Ratu Langit memberikan hadiah berupa dua buah pil keabadian agar Hou Yi dan Chang ‘E bisa hidup abadi di istana langit. Mereka memutuskan untuk sementara menyimpan pil itu dan menunggu saat yang tepat untuk naik ke langit. Dengan bahagia, pasangan itu menanti hari baik untuk bersama-sama menjadi sepasang Dewa.
Namun malang tak dapat dihindari. Ketika Hou Yi pergi untuk berburu, seorang muridnya yang serakah mencuri pil keabadian tersebut agar dia sendiri bisa menjadi Dewa. Chang ‘E memergoki perbuatannya dan merekapun bergulat memperebutkan benda itu. Dalam kondisi panik, Chang ‘E terpaksa menyembunyikan kedua pil itu di dalam mulutnya dan tanpa sengaja malah menelannya.

Karena menelan dua buah pil keabadian sekaligus, tubuh Chang ‘E menjadi amat ringan. Begitu ringan hingga dia tak mampu lagi mempertahankan kakinya agar tetap di tanah. Tubuh Chang ‘E melayang, lebih tinggi dari atap rumah mereka, dan tak lama kemudian ketinggiannya sudah melampaui ujung pohon tertinggi di hutan.

Tepat saat itulah Hou Yi pulang. Melihat istrinya melayang, dia menyadari kalau Chang ‘E pastilah telah menelan kedua pil itu. Hou Yi marah karena mengira sang istri telah mengkhianatinya. Dalam kemarahan, sang pahlawan merentang busurnya, berniat memanah jatuh istrinya sendiri. Beruntung, pada saat terakhir Hou Yi mengurungkan niatnya itu. Dengan hati hancur dia hanya bisa terpaku memandangi sosok sang istri yang makin lama makin jauh.

Chang ‘E melayang di langit, makin tinggi dan tinggi, dan baru mampu mendarat saat tiba di permukaan bulan yang dingin. Tak ada kehidupan di sana. Chang ‘E yang malang hanya bisa menangis tanpa tahu cara pulang ke bumi untuk menjelaskan semuanya pada sang suami. Sang Ratu Langit yang merasa kasihan padanya membuatkan sebuah istana di bulan dan memberikan seekor kelinci untuk menemani hari-hari Chang ‘E yang sepi. Chang ‘E pun menjadi Dewi Bulan.
Di bumi, Hou Yi akhirnya tahu kalau Chang ‘E tak bersalah. Sang murid durhaka mendapat hukuman berat, tapi hanya itu yang dapat dilakukannya. Tak mungkin dia bisa bertemu lagi dengan istrinya yang sudah menjadi Dewi. Tak ada lagi pil keabadian. Dunia mereka sudah berbeda. Yang bisa dilakukan Hou Yi hanya menunggu, berharap suatu saat Chang ‘E akan turun ke bumi mengunjunginya. Maka sejak saat itu, tiap tanggal lima belas bulan ke delapan – hari saat Chang ‘E naik ke langit – Hou Yi menyiapkan kue dan makanan kesukaan sang istri, berharap saat melihat kue itu Chang E akan teringat padanya dan bersedia turun dari istananya di bulan.

Menunggu dan menunggu. Tahun demi tahun berlalu, Hou Yi pun menjadi tua dan akhirnya meninggal dalam kesendirian. Masyarakat sekitar yang kasihan pada nasib malang pahlawan mereka meneruskan kebiasaan Hou Yi, memberi persembahan pada Dewi Bulan tiap tanggal lima belas bulan ke delapan. Itulah asal usul Festival Pertengahan Musim Gugur.

Bila pasangan Gadis Penenun dan Pemuda Penggembala bisa bertemu setahun sekali, seumur hidupnya Hou Yi tak bisa lagi bertemu dengan Chang ‘E. Barulah setelah dia meninggal, Kaisar Langit mengangkat jiwa sang pahlawan menjadi Dewa Matahari dan dengan demikian dia bisa berjumpa kembali dengan istrinya di Istana Bulan.

0 komentar:

Poskan Komentar

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | JCPenney Coupons